π Dipublikasikan pada: 22 Oct 2026
Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang mempertemukan sembilan maestro, akademisi, dan praktisi seni dari berbagai daerah di Indonesia dalam kegiatan Temu Maestro Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII Tahun 2026 di Gedung Auditorium Boestanul Arifin, Rabu (21/10/2026). Mengusung tema “Maestro dan Masa Depan Seni Tradisi Indonesia: Pewarisan, Inovasi, dan Keberlanjutan”, kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat pewarisan pengetahuan seni, mendorong regenerasi seniman, serta menjaga keberlangsungan seni tradisi di tengah perubahan zaman.
Rektor ISI Padangpanjang, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menjaga keberlanjutan seni tradisi melalui pewarisan pengetahuan dari para maestro kepada generasi muda. Kehadiran para tokoh seni dari berbagai latar belakang budaya menjadi kesempatan berharga untuk bertukar pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkuat peran perguruan tinggi seni dalam menjaga kekayaan budaya Indonesia.
Temu Maestro tidak hanya menjadi ajang pertemuan para seniman, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai perjalanan seni, proses kreatif, serta tantangan dalam mempertahankan tradisi. Melalui dialog lintas generasi dan disiplin seni, kegiatan ini diharapkan memperkuat hubungan antara pengalaman praktis para maestro, pengembangan keilmuan di perguruan tinggi, dan keberlangsungan seni di tengah masyarakat.
Sejumlah pokok bahasan yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini meliputi pewarisan pengetahuan maestro kepada generasi muda, regenerasi seniman, peran perguruan tinggi seni, serta upaya mempertemukan tradisi dan inovasi tanpa menghilangkan identitas budaya. Pembahasan juga mencakup dokumentasi dan digitalisasi pengetahuan seni, kolaborasi maestro–akademisi–komunitas, serta strategi menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.

Temu Maestro FKI XIII menghadirkan sembilan tokoh dengan kepakaran dan pengalaman yang merepresentasikan keragaman seni Indonesia.
Dari Bali, hadir Dr. I Made Sidia, SSP., M.Sn., maestro seni pedalangan, seniman, dan akademisi asal Gianyar. Sebagai pimpinan Sanggar Paripurna, ia aktif mengembangkan seni pedalangan melalui perpaduan tradisi dan inovasi serta membawa karya-karyanya ke panggung internasional.
Tokoh berikutnya adalah Nuzurlis Koto, pelukis, pematung, dan perupa keramik kelahiran Lasi, Agam, Sumatera Barat. Berkiprah sejak 1960-an, ia konsisten mengeksplorasi seni keramik sejak 1977 dan turut berkontribusi dalam pendidikan seni keramik.
Dari Papua, hadir Darlane Litaay, S.T., S.Sn., M.F.A., seniman tari kontemporer, koreografer, dan akademisi asal Sorong. Karya-karyanya mengeksplorasi identitas budaya Papua melalui pendekatan lintas disiplin dan telah tampil di berbagai festival internasional.

Dunia perfilman diwakili Dr. Muhammad Rivai Riza, S.Sn., M.A., atau Riri Riza, sutradara, penulis skenario, produser film, dan akademisi Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Karya-karyanya, antara lain Petualangan Sherina, Gie, Laskar Pelangi, dan Athirah, menjadi bagian penting dalam perkembangan perfilman Indonesia.
Dalam bidang tari tradisi Jawa, hadir Dr. Daryono, S.Kar., M.Hum., akademisi ISI Surakarta asal Wonogiri yang memiliki kepakaran dalam penciptaan, pengembangan, dan rekonstruksi tari klasik gaya Surakarta, khususnya tari alus.
Dari Jawa Barat, Dr. Suhendi Afryanto, S.Kar., M.M., akademisi dan praktisi karawitan dari ISBI Bandung, membawa perspektif mengenai pengembangan dan penelitian seni karawitan Sunda. Pengalamannya dalam bidang akademik dan tata kelola perguruan tinggi seni turut memperkaya perspektif mengenai keberlanjutan seni tradisi.
Selanjutnya, Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., kurator, kritikus seni rupa, dan akademisi ISI Yogyakarta asal Kulon Progo, hadir dengan pengalaman dalam penelitian dan kegiatan kuratorial. Kiprahnya memperlihatkan pentingnya kritik dan kurasi dalam membangun pemahaman publik terhadap perkembangan seni rupa Indonesia.
Dari Aceh, Salaudin, seniman lukis dan pelestari seni budaya asal Lhokseumawe, dikenal melalui eksplorasi gerak sebagai sumber inspirasi visual dalam karya-karyanya. Pengalamannya turut memperlihatkan kekayaan ekspresi budaya daerah dalam perkembangan seni rupa.

Sementara itu, tuan rumah diwakili Asnimar, S.Kar., M.Sn., seniman dan akademisi yang telah mengabdikan diri selama 37 tahun sebagai dosen di ISI Padangpanjang serta mendirikan Sanggar Seni Aguang. Salah satu kontribusinya adalah merekonstruksi Tari Piriang Suluah dari Nagari Gunuang, Padang Panjang, sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan warisan tari tradisi Minangkabau.
Keberagaman latar belakang para tokoh yang hadir menunjukkan bahwa seni tradisi Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan, teknik, nilai, dan filosofi yang perlu terus diwariskan. Tantangan yang dihadapi bukan hanya mempertahankan bentuk karya atau pertunjukan, melainkan juga memastikan pengetahuan yang melandasinya tetap dipahami dan dipraktikkan oleh generasi penerus.
Dokumentasi dan digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas akses terhadap pengetahuan seni. Namun, upaya tersebut perlu disertai pembelajaran langsung, praktik bersama maestro, penelitian, dan keterlibatan komunitas agar proses pewarisan tidak berhenti pada penyimpanan dokumentasi semata.
Perguruan tinggi seni memiliki peran strategis dalam menjembatani pengetahuan maestro dengan kebutuhan pendidikan dan perkembangan zaman. Melalui pendidikan, penelitian, penciptaan karya, serta pengabdian kepada masyarakat, pengalaman para maestro dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus inspirasi bagi lahirnya pendekatan kreatif yang tetap berpijak pada identitas budaya.
Temu Maestro FKI XIII di ISI Padangpanjang diharapkan memperkuat kolaborasi antara maestro, akademisi, mahasiswa, dan komunitas seni dalam membangun ekosistem seni yang berkelanjutan. Inovasi yang dilakukan dengan memahami akar tradisi menjadi salah satu jalan untuk menjaga relevansi seni tradisi tanpa menghilangkan nilai dan identitas yang melekat di dalamnya.
Melalui kegiatan ini, ISI Padangpanjang menegaskan pentingnya merawat warisan seni melalui proses pewarisan yang berkesinambungan, pengembangan pengetahuan, dan kolaborasi lintas generasi. Dengan demikian, seni tradisi tidak hanya menjadi bagian dari sejarah dan identitas bangsa, tetapi juga terus hidup, berkembang, dan memberi makna bagi generasi masa depan.